Minggu, 11 Januari 2009

makalah

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Penciptaan sastra pada masa kini lebih menekankan kepada masalah manusia, demikian pula dengan puisi, hanya bagaimana penyair menyajikan itulah yang berbeda. Puisi diciptakan didasarkan atas ilham dari beragam peristiwa yang dituangkan dengan media terpilih, penjiwaan yang lengkap, dan membawa suatu konsep secara puitis (1985: 4).

Tidak dapat dipungkiri bahwa gaya bahasa memainkan peranan yang penting dalam sebuah puisi. Gaya bahasa yang menjadikan karya itu hidup atau kaku. Kalau gaya bahasa dipersembahkan dengan baik, indah dan sempurna menjadikan karya itu menarik dan memikat hati pembaca. Begitulah sebaliknya. Dalam penulisan sajak atau puisi, setiap penyair mempersembahkannya dengan gaya bahasa yang tersendiri. Pembaca akan dapat mengesan kelainan gaya bahasa diantara seorang penyair dengan penyair yang lain. Gaya bahasa juga menjadikan sesebuah karya itu bermutu tinggi di mata pembaca. Dan biasanya gaya bahasa itu bergantung kepada pengalaman, ilmu dan kemahiran berbahasa yang dimiliki oleh setiap individu.

  1. Rumusan masalah

Dalam puisi memiliki gejala-gelaja dalam suatu menciptakan atau mengekspresikan karyanya dengan demikian penulis mencoba memberikan suatu rumusan masalah-masalah yang terjadi dalam puisi itu. Adapun masalah-masalahnya yaitu :

    1. Apakah mengekspresikan karya seorang penyair mampu meningkatkan kualitas puisi pada saat ini?
    2. Apakah pemaknaan puisi mampu meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap penciptaan atau karya seorang penyair?

  1. Tujuan penulisan

Adapun tujuan penulisan ini sebagai bagian dari rumusan masalah dan latar belakang maka dari itu tujuan sebagai berikut:

    1. Meningkatkan kualitas puisi pada saat ini
    2. Meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap penciptaan atau karya seseorang penyair.

  1. Manfaat penulisan

Dari latar belakang, rumusan masalah dan tujuan penulisan ini kita bisa memahami manfaat penulisan tersebut sebagai berikut:

    1. Peningkatan kualitas puisi tersebut
    2. Peningkatan pemahaman masyarakat terhadap penciptaan atau karya seseorang penyair.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Arti bahasa bagi seorang penyair

Seseorang yang menyebut dirinya aku yang hidup diantara aku-aku yang lain di tengah-tengah masyarakat yang tak mau dipanggil seekor atau setangkai orang. Sebagai manusia biasa, ia memiliki pikiran, untuk mengetahui segala sesuatu, menganalisa, mengolah, mengklasifikasi dan menyimpulkan. Ia, juga mempunyai perasaan seperti rasa cinta kasih, rasa benci, rasa keindahan, rasa senang, terharu, puas, pesona, sedih, dongkol dan lain-lainnya.

Dua faktor ini (pikiran dan perasaan) hidup dan menyatu dalam diri penyair dan sekaligus merupakan alat yang terpenting baginya untuk mengembangkan cita-citanya dan bakatnya, untuk membudayakan dirinya, lingkungannya, bangsanya dan negaranya. Dari sini lahirlah pemikir-pemikir besar, para filosof, para jangga dan budayawan.

Pertama-tama ia mempunyai kepekaan terhadap rangsangan sekitarnya. Keduanya, ia mampu menterjemahkan kembali kesan-kesan yang dialaminya dan rangsangan-rangsangan yang diterimanya dan diekspresikannya kembali sebagai ungkapan sastra, setelah melalui proses pemasakan, melalui pemilihan kata-kata yanhg tepat, warna bunyi yang sesuai dengan suasana kelahiran. Dan ketiga bahwa penyair itu ialah seniman yang jatuh cinta pada bahasa.

Melalui ciptaannya ia mengajak pembaca untuk menghasilkan sajak-sajak yang dapat mewakili jamannya. Menurut H.B jassin yang disebut penyair ialah pencipta yang menyairkan kehidupan dengan alat bahasa dan dapat membentuk nilai-nilai kehidupan seperti yang hidup dalam isi kesadarannya.

Untuk melihat lebih dalam, kedalam hakekat segala sebab di belakang kenyataan yang Nampak di belakang kehidupan sehari-hari penyair bisa melihat dunia lain dengan kehebatannya masing-masing.

Penyair juga mempunyai keinginan-keinginan, ide, pesan, hasrat, gagasan, atau saran-saran untuk menyampaikan sesuatu kepada masyarakat kecil maupun masyarakat luas termsuk interaksi antara dunia dalam dirinya dengan dunia luar dirinya. Penyair banyak menangkap momentum peristiwa dalam penggambarannya. Hal-hal ini yang ditangkap kadang-kadang merupakan kesan yang menyenangkan, problem yang harus direspon, ataupun pengalaman batiniah yang perlu disimak isinya. Untuk mengutarakan ini yang diandalkan penyair hanyalah bahasa dan kata-kata.

Dengan bahasa ia bisa menangkap maksud dan perasaan orang lain tapi juga dengan bahasa ia dapat mengutarakan pendapatnya, keterlibatannya, serta keterharuannya terhadap sesuatu kepada masyarakat.

Kata-kata merupakan alat yang paling komunikatif bagi penyair untuk mencatatkan getaran pikiran dan gejolak perasaannya. Seorang penyair harus bisa menguasai tata bahasa secara baik sebab jika tidak maka akan mengalami kesulitan menterjemahkan penghayatannya / pengalamannya melalui kata-kata untuk pencapaian maksudnya.

Menurut prof.S.takdir alisjahbana bahwa bahasa ialah ucapan, pikiran dan perasaan manusia dengan teratur dan memakai alat bunyi. Penggunaan bahasa yang keliru sudah tentu akan menggambarkan jalan pikiran yang keliru pula.

Dengan menguasai bahasa secara baik, maka dengan mudah ia akan menyairkan kehidupan, baik kehidupan lahiryah maupun bathinyah lewat persentuhannya yang luluh dengan dunia luarnya.

Dalam majalah sastra horizon pebruari 1980 Mochtar lubis menulis :“wilayah pengarang tidak terbatas pada satu dua bidang kehidupan saja, tapi menyangkut seluruh kehidupan termasuk kehidupan di dalam diri manusia sendiri yakni wilayah pikiran dan perasaan, wilayah sadar dan bawah sadar diri kita sebagai imbalan terhadap dunia diri kita.” Dasar inilah kiranya yang harus dipertahankan oleh seorang penyair untuk dapat diaplikasikan kemasyarakat serta pemahaman tentang penciptaan suatu puisi.

  1. Puisi lahir karena jatuh cinta seniman kepada bahasa

bahasa bagi seorang penyair adalah miliknya yang paling berharga. Dengan bahasa ia mengutuk/ mencaci maki dunia, tetapi juga dengan bahasa ia menyanyikan perasaannya atau mengembara ke dalam angan-angannya.

Bahasa taka pernah kering dalam jiwanya, setiap sentuhan, setiap situasi, setiap merasa dan mengagumi, hendak ditemukan dalam bahasa. dan merupakan kekuatan magic bagi penyair untuk sampai kepada realita estetis. Seni (puisi) ialah bahasa perasaannya, bahasa cinta bencinya, berahinya, jiwanya, pikirannya, renungan estetisnya, pengalaman dan penghayatan intensitas kemanusiaannya. Bahasa yang menyeluruh dilahirkan lewat kata-kata.

Penyair adalah mereka yang jatuh cinta kepada bahasa. karena bahasa merupakan nyanyian jiwa yang tak henti-hentinya bergetar dalam kalbu mereka. Dengan bahasa, mereka merasa menemukan tempat yang aman untuk menyembunyikan atau mengekspresikan diri mereka.

Dr. mohammad Iqbal, penyair yang penuh élan vital, swimburne yang menemukan keindahan puisi dalam bunyi, Tagore, Dante Alighieri dan lain-lain adalah penyair-penyair yang telah mengabdikan diri mereka dalam puisi karena jatuh cintanya kepada bahasa.

Penyair atau prosa tidak begitu saja menjadi pengarang tanpa lebih dahulu jatuh cinta kepada bahasa. dari sebuah sajak yang baik misalnya, tanpa kita memahami arti yang dikandungnya, tiba-tiba saja kita terjalin dalam komunikasi batin.

Akhirnya kita berkesimpulan bahwa bahasa yang baik harus digali dari kehidupan yang intens dan baik pula. Maka itulah puisi yang sukar dijinakkan tapi senantiasa lahir karena jatuh cintanya penyair kepada bahasa. dan inilah konsekuensinya terhadap kecintaan kepada nilai-nilai.

  1. Pembinaan dan pengembangan seni sastra lewat deklamasi

Isltilah deklamasi, asing bagi kita. Bahkan sering kita saksikan atau mengikuti lomba jenis kesenian ini, baik di sekolah- sekolah, di masyarakat, atau melalui media-media. Namun masalah yang kita hadapi sampai hari ini ialah adanya kekacauan tafsiran tentang deklamasi itu sendiri. Dari kekacauan tafsiran ini muncul calon-calon deklamator/deklamatris yang salah kaprah, seperti berjingrak-jingrak, bahkan berguling-guling diatas lantai dan sebagainnya.

Untuk itulah betapa pentingnya kita mengemban kata sepakat tentang pengertian deklamasi ini.

Sastra merupakan suatu peristiwa seni yang menggunakan bahasa sebagai medianya. Ia diciptakan pengarang sebagai the act of enjoyment yakni semacam kegiatan estetis dan di persembahkan kepada masyarakat untuk dinikmati. Karena isinya mengungkap kehidupan yang menyeluruh secara lahir batin. Maka sastra mempergunakan dua cara berbahasa yakni bahasa yang berbobot konotatif dan bahasa denotatif.

Bahasa konotatif ialah bahasa ungkapan perasaan, yang berhubungan erat dengan suasana jiwa. Ungkapan kata-kata dalam bahasa konotatif tidak hanya memiliki makna pusat tetapi juga berisi simbol-simbol. Bahasa konotatif tidak mementingkan arti tetapi mementingkan bobot dan gaya serta keluasan tafsiran. Sebagai contoh dapat kita ambil baris sebuah sajak, misalnya: “rinduku burung-burung merpati terbang ke negeri kenangan.”

Sedang bahasa denotatif ialah bahasa yang dipergunakan untuk mengutarakan akal pikiran kita. Bahasa ini bisa kita jumpai pada buku pelajaran yang bukan sastra seperti sejarah, geografi, sosiologi, dan berbagai ilmu pengetahuan yang lainnya.

Bahasa denotatif bertugas menterjemahkan arti pokok suatu benda yang ditunjukkannya. Jadi setiap kata hanya memiliki arti pusat yang disebut oleh kata itu. Jalan bahasanya berdasarkan hukum akal, sebab akibat karena setiap kata mengemban tugas yang ketat yakni arti pokok yang disebut kata itu. Perhatikan contoh berikut ini ; ( saya membaca Koran, Abdullah menebang kayu.”

Adakah perasaan yang terkandung di dalamnya? Sudah tentu tidak ada. Namun dalam sastra cenderung mempergunakan keduanya.

Sastra menurut bentuknya ada 3 yakni ; prosa, puisi, kritik dan esei. Klimaks dari bahasa konotatif terdapat dalam puisi. Dari bentuk ini, lahirlah istilah Deklamasi. Maka jelaslah bahwa deklamasi pada hakekatnya menyerukan / mengucapkan isi sebuah puisi.

a. Pengertian deklamasi

Istilah deklamasi berasal dari declamare atau declaim, yang artinya menyurukan atau membacakan sesuatu hasil sastra dengan lagu dan gerak-gerik sebagai alat Bantu. Gerak-gerik yang dimaksud adalah gerak-gerik alat Bantu yang steril, puitis, seirama dengan isi bacaan.

Dan dapat dikatakan bahwa pengertian deklamasi itu adalah perbuatan menyampaikan hasil-hasil sastra ( puisi ) dengan bahasa lisan. Orang mempunyai keahlian dalam menyampaikan / mendeklamasikan hasil sastra disebut deklamator untuk pria dan deklamaktris bagi wanita.

b. Bekal bagi seorang deklamator/deklamaktris

Menjadi seorang deklamator / deklamatris yang baik, tentunya harus memahami situasi sebuah sajak tersebut. Dan memahami latar belakang penulisan sajak itu serta isinya. Apakah ketika dalam pembuatan sang penyair mengambil suasana perang, penderitaan dan kelaparan, atau kegembiraan yang dialaminya. Selain itu, sebagai deklamator perlu juga mengetahui riwayat hidup penyair, apakah berasal dari lingkungan keluarga yang menderita, sehingga melukiskan dalam syair-syair ataupun sebagainya.

Dan setelah memahami syair tersebut sebagai deklamator mulai menghayati, yakni memikirkan, merasakan, membayangkan kembali apa-apa yang telah direnungkan, dirasakan dan dibayangkan oleh sang penyair. Jadi seorang deklamator harus berusaha menempatkan diri sebagainya penyairnya, sehingga pengaturan suasana yang dikandung oleh sajak tersebut.

Adapun bekal seorang deklamator / deklamaktris yang harus dimilikinya yaitu ;

- Kepribadian, yakni gambaran atau kesan pertama ketika naik pentas: tenangkan diri, tidak mudah gugup dan berwibawa dan yakin pada diri sendiri.

- Volume suara, bagaimana warna suara, kejelasan, serta pengaturan keras lemahnya suara tersebut.

- Lafal (artikulasi yang baik)

- Pengaturan tempo.

Setelah keempat bekal ini dikuasai oleh seorang deklamator maka akan memberikan suatu nuansa seperti yang diciptakan oleh sang penyair walaupun deklamator bukan penciptanya.

c. Tujuan deklamasi

Tujuan deklamasi tak berbeda dengan tujuan sastra. Tujuan seorang deklamator tak berbeda dengan tujuan sastrawan. Keduanya saling membutuhkan dan saling melengkapi. Seorang penyair menyampaikan buah pikirannya, gejolak perasaannya dan luapan emosinya lewat bahasa tulisan. Penyair menuliskan apa-apa yang dirasakan atau dilihat dan dihayati.

Sedangkan deklamator / deklamaktris menyampaikan selurh buah pikiran dan perasaan sang sastrawan ke dalam bahaa lisan. Kedua-duanya mempunyai tujuan yang sama yakni ingin menyampaikan isi hati pengarangnya. Kedua-duanya sama penting. Seorang penyair belum tentu senang yang dimiliki oleh deklamator, dan begitu juga sebaliknya.

Seorang deklamator yang baik, sanggup menyampaikan isi hati sastrawan dengan sejelas-jelasnya, dan seutuh uthnya. Serta mampu menciptakan keharuan dihati pendengarnya, seperti keharuan seorang penyair di kala menciptakan sajaknya. Karena itu pilihlah sajak yang sesuai dengan pengalaman dan kepribadian yang kita miliki.

  1. eksitensi seorang penyair

Di dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam kegiatan seni budaya, kita sering mendengar atau membaca istilah penyair. Nama-nama mereka sering terdengar dan tercantum dalam majalah-majalah sastra atau sebagainya. Para kritisi sering memperbincangkan hasil karya penyair. Karya-karya mereka, tidak saja menarik perhatian para peminat tetapi juga para kritisi di bidang puisi.

Untuk mengenal penyair secara hakiki, maka pertanyaan pertama yang timbul dalam hati ialah siapakah penyair? Penyair seperti juga tentara atau petani, guru atau pedagang yang sama-sama memiliki tugas dalam memenuhi fungsi sosialnya. Tentara memiliki fungsi untuk berperang, atau mempertahankan Negara. Seorang petani memiliki fungsi sosial sebagai penghasil bahan makanan. Seorang guru mempunyai fungsi sosial sebagai pendidik, seorang pedagang fungsinya berdagang.

Maka bagi seorang penyair, fungsi sosialnya ialah sebagai pencipta puisi atau penulis sajak-sajak. Di luar sana dia bukan siapa-siapa terkecuali sebagai manusia biasa. Karena statusnya social sebagai penulis sajak, maka di gelar dengan nama penyair. Jadi, baik tentara maupun petani, baik dokter maupun guru kesemuanya sama penting. Yang berbeda hanyalah status sosialnya. Tidak ada yang dominan dari yang lain, semuanya saling melengkapi kekurangan salah satunya serta kekurangan seluruhnya.

Kalau tentara berbicara dengan senjatanya, petani menulis dengan cangkulnya, maka sang penyair akan berbicara dengan sajaknya, dengan tetesan air mata, hati yang gundah melalui sajak-sajaknya serta mengutuk dunia. Seperti sepenggal sajaka dibawah ini;

Ah, dunia ! dunia !

Saya pusing di atas kau

Sajak dari OR. Mandank

Jadi jelas, bahwa yang dapat disebut penyair ialah mereka yang selalu melibatkan diri dalam kegiatan penciptaan puisi. Bagi penyair puisi adalah cangkul dari petani, atau senjata dari tentara.

Dengan singkat dapat dikatakan, bahwa semua orang mempunyai pengalaman tetapi tidak semua orang bisa melahirkan kembali pengalamannya dalam tulisan. Jadi dalam penyair harus bisa menonjolkan melahirkan kemampuan untuk melahirkan kristialisasi penghayatan dalam menulis suatu sajak. Namun bagi yang bukan penyair dan tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan suatu sajak hal ini merupakan rahasia tuhan karena dia yang memberikan suatu mukjizat dalam berkarya.

Bagi penyair , pengalaman adalah sumur yang tidak pernah kering, semakin ditimba, semakin dalam dan semakin jauh menukik kedalam kehidupan. Dunia ini luas dan penuh sejuta pengalaman dalam hidup dan penuh dengan inspirasi. Ketika kita memandangi langit dengan matahari yang bersinar sudah tentunya itu sebagai inspirasi kita selaku penyair ketika kita merenungkan seksama. Dan akan berkata “berapa musim lagi kita akan memandang matahari” dalam hal ini telah muncul sebuah sajak dari pandangan kita selaku penyair.

Dalam setiap gerak, dalam diam, setiap momen atau deruan angin menyapa dedaunan merupakan suatu inspirasi yang dapat memperkaya sang penyair.

Untuk bisa melukiskan semua pengalaman yang bersumber dari kehidupan maka jalan yang ditempuh oleh penyair ialah mendekati kehidupan hingga ke intinya. Hanya dengan cara itu kita bisa menghasilkan puisi. Menjadi penyair yang baik ialah penyair yang bisa berhasil mendekati kehidupan seutuhnya. Seorang yang asing dengan kehidupannya maka tidak akan bisa menulis sebuah puisi. Karena puisi bukan tergantung awing-awang, tetapi hasil pergaulan penyair dengan pengalamannya.

Mendekati kehidupan berarti mendekati diri sendiri, kembali ke dalam diri sendiri. “kalau sudah kembali ke dalam diri sendiri, lalu mendekatlah kepada alam” menurut Rainer Maria Rilke. “tulislah apa yang kau kagumi, yang kamu risaukan, yang kamu cintai, yang kamu rindukan.”

Persentuhan antara dunia batin di luar diri penyair dengan dunia batin dalam diri penyair, akan melahirkan penghayatan estetis. Dan itulah puisi. Jadi apa yang di puisikan adalah pernyataan intensitas dari pada diri sang penyair.

BAB III

PENUTUP

  1. kesimpulan

Penciptaan sastra pada masa kini lebih menekankan kepada masalah manusia, demikian pula dengan puisi, hanya bagaimana penyair menyajikan itulah yang berbeda. Puisi diciptakan didasarkan atas ilham dari beragam peristiwa yang dituangkan dengan media terpilih, penjiwaan yang lengkap, dan membawa suatu konsep secara puitis (1985: 4).

Dua faktor ini (pikiran dan perasaan) hidup dan menyatu dalam diri penyair dan sekaligus merupakan alat yang terpenting baginya untuk mengembangkan cita-citanya dan bakatnya, untuk membudayakan dirinya, lingkungannya, bangsanya dan negaranya. Dari sini lahirlah pemikir-pemikir besar, para filosof, para jangga dan budayawan.

Dengan bahasa ia bisa menangkap maksud dan perasaan orang lain tapi juga dengan bahasa ia dapat mengutarakan pendapatnya, keterlibatannya, serta keterharuannya terhadap sesuatu kepada masyarakat.

Kata-kata merupakan alat yang paling komunikatif bagi penyair untuk mencatatkan getaran pikiran dan gejolak perasaannya. Seorang penyair harus bisa menguasai tata bahasa secara baik sebab jika tidak maka akan mengalami kesulitan menterjemahkan penghayatannya / pengalamannya melalui kata-kata untuk pencapaian maksudnya.

Menurut prof.S.takdir alisjahbana bahwa bahasa ialah ucapan, pikiran dan perasaan manusia dengan teratur dan memakai alat bunyi. Penggunaan bahasa yang keliru sudah tentu akan menggambarkan jalan pikiran yang keliru pula.

Dengan menguasai bahasa secara baik, maka dengan mudah ia akan menyairkan kehidupan, baik kehidupan lahiryah maupun bathinyah lewat persentuhannya yang luluh dengan dunia luarnya.

Bahasa bagi seorang penyair adalah miliknya yang paling berharga. Dengan bahasa ia mengutuk/ mencaci maki dunia, tetapi juga dengan bahasa ia menyanyikan perasaannya atau mengembara ke dalam angan-angannya.

Bahasa taka pernah kering dalam jiwanya, setiap sentuhan, setiap situasi, setiap merasa dan mengagumi, hendak ditemukan dalam bahasa. dan merupakan kekuatan magic bagi penyair untuk sampai kepada realita estetis. Seni (puisi) ialah bahasa perasaannya, bahasa cinta bencinya, berahinya, jiwanya, pikirannya, renungan estetisnya, pengalaman dan penghayatan intensitas kemanusiaannya. Bahasa yang menyeluruh dilahirkan lewat kata-kata.

Isltilah deklamasi, asing bagi kita. Bahkan sering kita saksikan atau mengikuti lomba jenis kesenian ini, baik di sekolah- sekolah, di masyarakat, atau melalui media-media. Namun masalah yang kita hadapi sampai hari ini ialah adanya kekacauan tafsiran tentang deklamasi itu sendiri. Dari kekacauan tafsiran ini muncul calon-calon deklamator/deklamatris yang salah kaprah, seperti berjingrak-jingrak, bahkan berguling-guling diatas lantai dan sebagainnya.

Untuk itulah betapa pentingnya kita mengemban kata sepakat tentang pengertian deklamasi ini.

Bahasa konotatif ialah bahasa ungkapan perasaan, yang berhubungan erat dengan suasana jiwa. Ungkapan kata-kata dalam bahasa konotatif tidak hanya memiliki makna pusat tetapi juga berisi simbol-simbol. Bahasa konotatif tidak mementingkan arti tetapi mementingkan bobot dan gaya serta keluasan tafsiran. Sebagai contoh dapat kita ambil baris sebuah sajak, misalnya: “rinduku burung-burung merpati terbang ke negeri kenangan.”

Sedang bahasa denotatif ialah bahasa yang dipergunakan untuk mengutarakan akal pikiran kita. Bahasa ini bisa kita jumpai pada buku pelajaran yang bukan sastra seperti sejarah, geografi, sosiologi, dan berbagai ilmu pengetahuan yang lainnya.

Adapun bekal seorang deklamator / deklamaktris yang harus dimilikinya yaitu ;

- kepribadian, yakni gambaran atau kesan pertama ketika naik pentas: tenangkan diri, tidak mudah gugup dan berwibawa dan yakin pada diri sendiri.

- Volume suara, bagaimana warna suara, kejelasan, serta pengaturan keras lemahnya suara tersebut.

- Lafal (artikulasi yang baik)

- Pengaturan tempo.

Setelah keempat bekal ini dikuasai oleh seorang deklamator maka akan memberikan suatu nuansa seperti yang diciptakan oleh sang penyair walaupun deklamator bukan penciptanya.

Untuk mengenal penyair secara hakiki, maka pertanyaan pertama yang timbul dalam hati ialah siapakah penyair? Penyair seperti juga tentara atau petani, guru atau pedagang yang sama-sama memiliki tugas dalam memenuhi fungsi sosialnya. Tentara memiliki fungsi untuk berperang, atau mempertahankan Negara. Seorang petani memiliki fungsi sosial sebagai penghasil bahan makanan. Seorang guru mempunyai fungsi sosial sebagai pendidik, seorang pedagang fungsinya berdagang.

Bagi penyair , pengalaman adalah sumur yang tidak pernah kering, semakin ditimba, semakin dalam dan semakin jauh menukik kedalam kehidupan. Dunia ini luas dan penuh sejuta pengalaman dalam hidup dan penuh dengan inspirasi. Ketika kita memandangi langit dengan matahari yang bersinar sudah tentunya itu sebagai inspirasi kita selaku penyair ketika kita merenungkan seksama. Dan akan berkata “berapa musim lagi kita akan memandang matahari” dalam hal ini telah muncul sebuah sajak dari pandangan kita selaku penyair.

Mendekati kehidupan berarti mendekati diri sendiri, kembali ke dalam diri sendiri. “kalau sudah kembali ke dalam diri sendiri, lalu mendekatlah kepada alam” menurut Rainer Maria Rilke. “tulislah apa yang kau kagumi, yang kamu risaukan, yang kamu cintai, yang kamu rindukan.”

Persentuhan antara dunia batin di luar diri penyair dengan dunia batin dalam diri penyair, akan melahirkan penghayatan estetis. Dan itulah puisi. Jadi apa yang di puisikan adalah pernyataan intensitas dari pada diri sang penyair.

  1. saran

Dalam diri penyair memiliki sebuah kehidupan yang merupakan adalah kenyataan- kenyataan dalam hidupnya. Dan bagi kita hanya menikmati sebuah syair yang telah tertulis maka dari itu eksitensi seorang penyair harus kita berikan sebuah nilai yang berharga dengan demikian penyair dapat diketahui oleh kalangan masyarakat. Dan demikian yang dapat diberikan penulis semoga makalah ini sebagai acuan kita untuk meningkatkan pemahaman penyair dikalangan masyarakat luas serta yang ingin memperdalam tentang puisi.

Segala sesuatu pasti akan memiliki nilai tersendiri sama halnya dengan sebuah karya yang dituliskan oleh sang penyair, memiliki nilai-nilai moral, sosial, serta religius. Maka dari itu kita sebagai generasi muda untuk dapat memperkayakan lagi khususnya dibidang sastra.

Demikian saran yang dapat disampaikan kekurangan hanya milik penulis dan kesempurnaannya hanya milik allah swt.

DAFTAR PUSTAKA

Aftaradun. 1990. pengantar apresiasi puisi. Bandung : angkasa.

Djoko Pradojo. Rakhmad. 1993. pengkajian puisi. Yogyakarta : Gajah mada University Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar