Minggu, 11 Januari 2009

kumpulan puisi

Jeritan Hati
Bagai kerikil jauh disana
Menginjak seakan merana
Wahai insan yang berhati mulia
Tunjukkan bahwa engkau setia
Banyak insan tak berdaya
Ingin selalu berupaya
Mencari tuk mereka
Jangan lagi tersiksa
Oh…
Tuhan sang pencipta
Kami ingin hidup bahagia
Hentikanlah kesedihan
Hidup penuh kedamaian

Karya :
Roni Laing











Pada Mama
Mama…
Kalau saja kau mau mengerti
Apa yang ku inginkan
Tak gunung yang tinggi ku minta
Tak laut yang ku ingini
Takkan kuminta yang ku tau
Dirimu tak mampu memenuhinya
Yang ku mau mama…
Mau mengerti aku
Akan segala yang ada dibenakku
Yang mungkin tak seirama dengan mama
Akan segala cita-citaku
Yang mungkin mama tak setuju
Tapi hanya itu yang kumau
Mama…


Karya :
Hasmiawati








Tirani
Ketika hati kecilku meronta
Dirona wajahmu, ku liat bayang semu
Kejujuran enggan menjalin kasih sejati
Dihatimu selalu ada organsi bertahta
Dan gema duwi tuanku,
senantiasa menghiasi singgasana
ku ciptakan sendiri
dan bukan pemerintahan kesultanan
Aku semakin jauh terusir,
oleh naluri pribadi
Engkau semakin kerdil,
karena egois dan ambisi
Antara murka dan keserakahan,
telah menggaris batas
Naif tingkahmu, Dusta tuturmu dan kamu
Menjadi serba palsu, karena direkayasa
Entah kapan kedewasaanmu berubah
Kepalsuan yang kau cipta, kelak akan pudar
Kesombongan dan keserakahan,
akan mengantar dirimu kesana
Ujung cakrawala terpantulkan,
bayangan dirimu yang sejati
Melihat wajah penuh noda dan dosa
Semuanya akan pergi, meninggalkan dirimu sendiri
Karya :
Maickel

Kata
Kata…
Karena kata orang bisa dicela
Karena kata orang bisa dihina
Karena kata orang bisa bahagia
Dan karena kata orang bisa tertawa
Kata…
Karena kata orang bisa terbedaya
Karena orang bisa celaka
Karena kata orang bisa masuk surga
Dan karena orang bisa masuk neraka


Karya :
Ronald.s













Pertemuan terakhir
Hari demi hari silih berganti
Tak terasa usia kian jauh
Dunia semakin kejam
Membawa duka tiada terkira
Mama aku merindukanmu
Akankah kita bersua lagi
Anakmu kini berteman pilu
Hanya engkaulah penawar segalanya
Tak ku kira itu adalah akhir dari pertemuan
Setelah engkau memejamkan mata
Bukannya tidur namun engkau telah pergi
Menghadap sang khalik
Selamat jalan mama
Semoga kelak akan ada pertemuan lagi
Kasihmu akan selalu ku rindukan
Semoga hari ini bukan yang terakhir

Karya :
Maryatin








Malam berdarah
Angin bertiup menerpa malam
Bulan madu menampakan sinar
Bintangpun enggan berkelip
Aku terbangun dari tidurku
Hatiku mulai resah
Memandang pohon kian bergoyang
Diterpa angin dari ufuk barat
Hujan pun mulai turun
Tak terasa malam pun tiba
Hujan turun semakin derasnya
Kupandang setiap sudut rumah
Sudah tergenang air hujan
Aku berusaha berbenah
Entah mengapa badan terasa letih
Kubaringkan tubuh di pembaringan
Ku usap perut ini
Seraya berkata “kuatkan dia”
Ternyata tuhan berkata lain
Buah hatiku pun pergi bersamanya

Karya :
Rabiah syahrudin M





Cinta dalam dua sisi
Lemah terkulai bagai bayang yang tak terlihat
Berdiri sendiri, meratapi kepergian sinar yang
Menghangatkan sisi kehidupan
Hmm… inikah cinta
Bila ini cinta, dia tidak akan pergi
Bila ini cinta, dia tidak akan mati
Benci, dia itu benci bukan cinta
Hanya saja dia berdiri diantara dua
Kepribadianmu yang berbeda
Lari saja dari dirimu, jauh saja dari dirimu
Kemudian lihat apakah dia cinta
Tidak dia bukan cinta
Ya dialah cinta, dialah yang selama ini
Membuat kau mampu memperlihatkan dua sisi
Dalam dirimu yang sangat berbeda
Yach…
Dialah cinta, yakinlah dia akan membuatmu
Mencintai seseorang dengan tulus
Menghianati cintamu…
Itulah cinta

Karya :
Sollaimansyah




Kunanti jawabanmu
Pernahkah diriku melintas dibenakmu
Pernahkah namaku terucap mesra dibibirmu
Pernahkah keheningan malam,
menghadirkan rindu untukku
pernahkah bunga tidurmu di hiasi oleh sosokku
bila iya, katakanlah…
jujurlah padaku
terlebih pada dirimu
mencintai bukanlah dosa
mencintai adalah anugrah
mencintai pun tak harus memiliki
mencintai tak perlu pemaksaan
yang terpenting…
mencintai kejujuran
pada diri sendiri

Karya :
Siti sani









Ku tak ingin jadi insan biasa
Ku tak ingin jadi insan biasa
Adalah hakku tuk jadi berbeda
Ku mencari kesempatan, bukannya jaminan
Ku takingin menjadi warga peliharaan
Lemah dan terperdaya
Jika terbiasa dengan lindungan Negara
Ku ingin mengambil resiko
Mimpi dan bisnis
Kadang gagal dan sukses
Tidak ku tukarkan dengan sentuhan pengangguran
Lebih ku sukai cobaan hidup dari pada sentuhan pengangguran
Lebih ku gemari cobaan hidup dari
Hidup yang terjamin
Kegairahan, pencapaian dari pada hidup hambar
Takkan ku gadaikan kebebasan dengan uang sumbangan
Tidak juga harga diri dengan sedekah
Sudah menjadi warisanku untuk senantiasa berdiri
Teguh, bangga dan tidak gentar
Berpikir dan tidak untuk diri sendiri
Menikmati hasil usaha sendiri
Dalam menghadapi dunia dengan penuh berani
Inilah arti sebenarnya menjadi insan biasa

Karya :
Ruqayah


Peri kecilku
Langkah kecil menghampiri
Terbuyar lamunanku, saat memandangmu
Tangan-tangan mungil
Menggenggam erat penuh lembut dan kehangatan
Penglipur lara saat kesepian
Enggan beranjak dalam dekapan nyata
Bunda cinta wahai peri kecilku
Keluguan, kelucuan menghampiri hari-harimu
Kertas putihmu itu kosong
Ingin ku tuangkan kisah terbaik bagimu
Nafas dan ragaku mengalir deras
Memenuhi persendian dan ubun-ubun
Hanya untuk peri kecilku
Engkau adalah amanat yang tak terhingga
Limpahan karunia yang luar biasa
Makna mengiringi perjalanan
Dilorong waktu, dilorong senja
Dan detik-detik kehidupan

Karya :
Dewi mulyati






Tak bisa kumiliki
Begitu dalam cintaku untuknya
Tak ada lagi cinta untuk yang lain
Seakan tak ada lagi hasrat untuk mencintai
Yang lain
Begitu tulus, sampai ku takut kecewa
Kini benar terjadi
Cintaku mati, hatiku hampa, hatiku sakit…
Ku tak pernah merasakan
Sesakit ini sebelumnya
Cinta tak harus memiliki
Biar ku yang mencintainya
Dan dia tak usah mencintaiku
Ku coba berusaha, tuk hilangkan rasa ini
Dengan segala yang ia perbuat selama ini
Untuk ku
Itulah hati
Siapa yang akan kusalahkan
Dia yang ku cintai
Atau ku salahkan saja hati ini

Karya :
Desy Natalia onike





Pergi
Waktu terus berlalu meninggalkanku
Berlalu tanpa kembali
Dua pilihan menggoncang pikiranku
Menngantar ke alam mimpi
Cahaya menerangi hidupku
Seakan penuh Tanya
Bagaimana jalan hidupku
Kan ku serahkan padanya
Ku dengar detakan jam dinding
Semakin lama, seakan cepat berdetak
Pikiranku bergoncang
Inilah waktu tuk berteriak
Titik penantian terakhir menghampiriku
Suatu pilihan harus ku jalani
Sudah saatnya diriku pergi
Meninggalkan cahaya hatiku
Tuhan tunjukanlah ku jalan kebenaranmu
Berikan ku kesabaran di dunia
Ijinkan ku berkata benar
Ku pergi demi meraih cita-cita

Karya :
Rohani A




Ibu
Ibu saat ku berada di rahimmu
Saat kau beri kesempatan menatap dunia
Kini ku menapak jejak
Menjelajahi setiap sudut, di alam fana ini
Dengan kesabaranmu membimbingku
Dengan kelembutan, segenap kasih sayangmu
Kau ajarkan ku hakekat hidup
Agar tegar menjalani liku kehidupan
Ibu saat ku menatapmu
Terlihat segurat garis kelelahan diwajahmu
Tergambar jelas betapa banyak pengorbanan
Untuk membimbing dan membesarkanku
Ibu tak ada yang ku berikan
Untuk mengganti semua kelelahan dan pengorbanan
Yang telah kau lakukan untukku
Hanya doa ku haturkan
Semoga bahagia selamanya

Karya :
Syamsiah







Sesungguhnya cinta itu
Cinta dambaan hati
Cinta ketentraman hati
Cinta bahagiakan hidupku
Itu yang ku impikan
Selama ku berlari
Mencari cinta
Harapan semua kian terwujud
Namun sayang
Semua harapan ku sirna
Cinta hanya sebuah permainan
Melukai hati, menusuk jiwa
Hati ku perih, jiwaku hampa
Hilang percaya diri
Hingga terpuruk, dalam kekecewaan
Cinta tulus ku harapkan
Berakhir dengan tangisan air mata
Menghampakan hati
Salah ku simpan
Dendam saat ini, tak ingin rasakan cinta lagi
Ku lelah, cinta dimana kau saat ini

Karya :
Vemi nur anggraeni




Ibu
Dengan sabar ibu membimbingku
Tanpa kenal lelah engkau mengendongku
Tak kau lepaskan ku dalam pelukanmu
Tak pernah kau menyakiti dan melukaiku
Tak kau hiraukan panas matahari menyengat tubuhmu
Tak kau hiraukan gerimis membasahi wajahmu
Tak kau hiraukan keringat bercucuran ditubuhmu
Hanya demi ku buah hatimu
Ku tau engkau letih
Ku tau engkau selalu bercucuran air mata
Kini kau lusuh tak berdaya
Kau berjalan tertatih-tatih
Dengan tetes air mata
Kau rakit kata demi kata
Kau haturkan doa dengan tulusnya
Agar ku bahagia selamanya

Karya :
Astutik








Bersih dan kotor
Sholat itu bersih
Tai itu kotor
Hati itu bersih
Fitnah itu kotor
Ikhlas itu bersih
Sombong itu kotor
Doa itu bersih
Iri itu kotor

Karya :
M.A


Guru
Engkau sumber ilmu
Engkau berbudi mulia
Engkau tulus ikhlas
Engkau selalu di sayangi
Semoga allah memberi nikmat-nya
Selalu dan selamanya
Semoga allah memberi rahmat-nya
Selalu dan selamanya

Karya :
M.A



Kehidupan
Dunia terus berputar
Bagai sebuah roda
Tiap detik, tiap jam
Dapat merubah perilaku seseorang
Kehidupan dapat berubah kapan saja
Mengubah sifat seseorang
Kadang diatas, kadang dibawah
Kadang bahagia, kadang terberduka
Kehidupan memang perih
Bagi kita yang kurang mampu
Namun dalam kehidupan
Selalu muncul semangat dan motivasi

Karya :
Yohanis tandi











Pengakuan diri
Tak satupun orang
Bisa menjamin dirinya
Selamat disaat ajal memanggilnya
Setitik resah, lahan
Semua akan diperhitungkan
Semisai buih, dosa
Yang t’lah kita kerjakan
Setiap mata, hati, kaki, dan tangan
Akan menjadi saksi
Tiada dusta diri ini
Yang tak terhakimi
Luka sepi air mata
Tak berarti lagi
Akan terlambat segala sesal
Diwaktu nanti
Tuhan mohon jangan
Hukum kami dari dosa
Ampuni kami, karena tak mungkin kami
Sanggup menahan pedih
Setitik rahmat yang kau beri
Lebih berarti dari segalanya
Setitik ampunanmu
Akan menghapuskan dosa kami
Inilah pengakuan diri

Karya :
Safrudin
Pohon
Pohon pilihanku
Ku bingung dengan semua tanaman
Yang ada didunia ini
Ku bingung dengan pohon
Yang ada disekitarku
Pohon mangga
Buahnya lebat, daunnya tak ada
Pohon jambu, buahnya tak ada daunnya, daunnya lebat
Pohon rambutan
Buah dan daunnya berimbang
Masih banyak pohon
Yang ingin melindungiku
Dari teriknya sinar mataharimu
Kupilih pohon rambutan
Karena buah dan daunnya berimbang
Ku tak tau akan pilihanku
Ku yakin tuhan akan memilih salah Satu
Ku yakin tuhan memberi terbaik untukku

Karya :
Saudah diniati






Besok
Besok merupakan detik-detik menegangkan
Suka, malu dan perasaan ku tercampur aduk
Ku telah mengenalnnya s’lama 2 tahun
Hanya melalui kertas putih
Bercoretkan tinta hitam
Namun ku belum pernah melihat
Bagaimana bentuk wajahnya
Ku bahagia telah mengenal dia
Walau hanya kertas putih
Bercoretkan tinta hitam
Siapapun kita, bagaimanapun kita
Kita kan menerima apa adanya

Karya :
Taruna W












Kasih Setiamu
Saat ku merenungkan hidup
Sering kali ku melupakanmu
Saat ku berjalan sendiri
S’akan ku meragukanmu
S’makin berat beban hidupku
S’makin ku menjauh darimu
Karena ku pikir kau hebat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar